Kamis, 08 Maret 2012

Yamaha Mio Sporty, Pelatuk Roller Jadi Senjata!




Main di mana saja yang penting psiton 58 mm
Hingga kini, Mio lansiran 2010 milik Marsyad selalu menang saat diadu balap trek lurus 500 meter malam hari. Senjatanya pamungkasnya, ada di pelatuk kem model roller!

“Dari pertama buat sampai saat ini, motor belum pernah kalah. Asalkan, spek yang diadu sama dengan regulasi. Yaitu, pakai piston diameter 58,5 mm, klep aslinya, stroke standar dan pengapian masih tetap bawaan pabrik. Setiap menang, wajib hukumnya untuk bongkar mesin. Supaya tidak ada kejanggalan satu sama lain,” jelas Marsyad yang warga Tangerang, Banten itu.

Lanjut! Pemakaian roller rocker arm bikin kinerja pelatuk dan kem jadi lebih ringan gesekan. Akibatnya, putaran mesin jadi tidak terbebani. Selain itu, panas yang dihasilkan bisa di bawah pelatuk biasa. Ini menggeser pelatuk model konvensional yang diusung Yamaha Mio Sporty.

Soal racikan engine, Marsyad mempercayakan ke Abdul Syukur. Doi, mekanik dari bengkel Auto Sonic (AS) di Jl. Masjid Al-Gofur, Pondok Aren, Tangerang, Banten. “Pemasangan platuk yang dicomot dari Honda Blade ini membuat bentuk atau profil kem berubah” sebut Abdul.

Profil kem diubah menjadi membulat. Sehingga, roller bisa menekan kem sempurna. Maka itu, kem ditambah daging lebih dulu lewat las argon. Hasilnya lift klep in bisa 9,3 mm dan klep ex 9,1 mm. “Durasi kem sendiri dibuat jadi 268ยบ,” tambah tunner yang akrab disapa Kelink ini.

Pelatuk roller pun tak bisa terpasang sempurna jika tanpa ubahan. “Memasang peranti itu, hanya cukup memperlebar 9 mm pada pada tempat dudukan rocker arm yang lama. Jadi, antara pelatuk dan setelang atau batang klep bisa center,” tambah pria yang kerap menukangi pacuan road race juga.


Pelatuk roller andalkan milik Honda Blade (kiri) - Kem dibentuk ulang profilnya sesuai karakter pelatuk roller (tengah) - Piston dibuat lebih ringan lewat papasan dinding bagian bawah (kanan)

Kelar bermain roller, penyesuaian regulasi tentu dilakukan di bagian piston. Supaya kapasitas mesin menjadi bengkak, maka piston diganti pakai milik Suzuki Thunder 125 oversize 100. Yap, jadi 58 mm. Kan, diameter standarnya 57 mm.

Masih soal piston! Supaya kompresi menjadi 14,3 : 1, Keling membuat dome piston setinggi 1,5 mm. Kalau dihitung dari lubang pen, tingginya keseluruhan menjadi 14 mm.

Pada bagian dinding bawah piston, juga ikut dipapas 1,5 mm. Pemapasan itu dilakukan agar piston jadi lebih enteng dan power mesin yang dihasilkan makin padat. Sehingga putaran bawah lebih terdongkrak!

Mekanik yang memang berkulit hitam ini, melanjutkan ke silinder head. Lantaran klep tidak boleh diubah, Kelink hanya menyesuaikan lebar kubah mengikuti diameter seher. Untuk kompresi yang diinginkan. Pria yang gila bali ini pun memapas head sebanyak 1,4 mm. “Itu supaya power bawah jadi tambah cepet,” ucap mekanik yang suka minum kopi ini.

Terakhir, mekanik yang suka ngelamun sendirian ini, memodifkasi knalpot standarnya dengan cara dibobok. “Biar putaran atasnya ikut terdongkrak. Rpm makin tajam dan suaranya makin merdu,” tutup mekanik yang punya gaya rambut belah tengah ini.

Gazzz...! (motorplus-online.com)

3 komentar:

  1. Serem bener motonya bisa ampe kaya gitu.

    BalasHapus
  2. minta nmer hp bengkel nya dong .
    sekalian kasih rincian budget nya om .

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ada nopenya kk...
      coba datang langsung aja
      Auto Sonic (AS) di Jl. Masjid Al-Gofur, Pondok Aren, Tangerang, Banten

      Hapus